Minggu, 25 April 2010

Inflamasi

Bila jaringan mengalami cedera maka jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi yang menyebabkan musnahnya agen – agen yang membahayakan jaringan atau mencegah agen – agen ini menyebarkan lebih luas lagi. Reaksi – reaksi ini kemudian juga menyebabkan jaringan yang cedera diperbaiki atau diganti dengan jaringan yang baru. Rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan cedera ini disebut dengan radang. Tanda – tanda makroskopik pada jaringan yang mengalami radang adalah

· Kemerahan (rubor)

Pada cedera jaringan biasa mula – mula akan tampak arteriol dan kapiler melebar (vasodilatasi) sehingga aliran darah didalamnya mengalir cepat. Begitu pula dengan kapiler – akarena pelebaran kapiler – kapiler ini maka bila dilihat dengan mata mesenterium menjadi berwarna merah . Keadaan ini disebut hiperemia atau kongestit. Tubuh mengontrol produksi hiperemia pada awal reaksi peradangan, baik secara neurologis maupun kimiawi, melalui pelepasan zat-zat seperti histamin.

· Panas (kalor)

Jika terjadi cedera jaringan maka, daerah peradangan kulit jadi akan lebih hangata karena ada lebih banyak darah yang dialirkan kedalam tubuh kepermukaan tubuh yang mengalami peradangan darioada kedaerah yang normal. Fenomena hangat lokal ini tidak terlihat didaerah – daerah meradang yang terletak jauh didalam tubuh, karena jaringan – jaringan tersebut memiliki suhu yang sama dengan darah.

· Nyeri (dolor)

Pada suatu reaksi peradangan tampaknya ditimbulakan dalam berbagai cara. Salah satunya adalah perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion – ion tertentu dapat merangsang ujung – ujung saraf. Hal ini sama dengan pelepasan zat kimia tertentu yang dapat merangsang saraf. Selain itu juga dapat disebabkan karena pembengkakan jaringan yang meradang yang dapat meningkatkan tekanan lokal yang tidak diargukan lagi dapat menimbulkan nyeri.

· Tumor

Pada peradangan, aspek paling mencolok adalah tumor atau pembengkakan lokal yang dihasilkan oleh cairan dan sel – sel yang berpindah dari aliran darah kejaringan. Kapiler yang sehat permeabilitas dindingnya terbatas, yang mana hanya dapat dilalui oleh cairan dan larutan garam, tetapi sukar dilalui oleh larutan protein yang berupa koloid. Bila kapiler ini cedera, maka dindingnya akan menjadi lebih permeabel dan akan lebih mudah dilalui oleh zat – zat yang berprotein.

Maka dari itu jumlah cairan yang meninggalkan kapiler sewaktu radang akan menjadi lebih banyak. Cairan ini akan masuk kedalam jaringan sehingga menyebabkan jaringan menjadi sembab. Larutan yang mengandung protein, beberapa diantaranya adalah globulin, serta fibrinogen. Jumlah protein yang ada pada jaringan sudah sangat banyak ini menyebabkan tekanan osmotik dalam jaringan meningkat sehingga jalan masuknya plasma kembali kekapiler. Pada keadaan normal ujung arteriil tekanan hidrostatiknya lebih besar daripada tekanan osmotik dalam jaringan, sehingga plasma jaringan dapat mengalir kembali kedalam tubuh.

Pada radang, terjadi keadaan dimana tekanan ostomotik lebih tinggi dan hal ini menyebabkan plamsa tidak dapat kembali ke pembuluh. Pembuluh menjadi kekurangan plasma dan butir – butir darah berhenti mengalir.

Cairan radang yang ada dijaringan dapat membeku, hal ini disebabkan karena adanya protein fibrinogen. Cairan ini disebut dengan eksudat. Sifat – sifat eksudat adalah mengandung lebih banyak protein daripada cairan jaringan normal, berat jenisnya lebih tinggi daripada normal, dan dapat membeku.

· Fungsio laesa

Jika bagian radang sudah mengalami bengkak, nyeri, disertai sirkulasi abnormal,dan lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, seharusnya berfungsi secara abnormal.

Inflamasi dapat menimbulkan beberapa bentuk komplikasi, antara lain abses, sepsis, dan syok septik. Abses adalah rongga pada jaringan lunak yang berisi cairan kental yang mengandung sisa-sisa jaringan yang telah mencair dan sisa-sisa leukosit yang mati (nanah/pus). Saluran yang berasal dari abses ke permukaan kulit disebut dengan saluran sinus.

Sepsis adalah adanya mikroorganisme patogen atau toksinnya di dalam darah atau jaringan lain. Terjadinya sepsis melalui proses yang cukup panjang. Jika penyebaran mikrooraganisme tidak terhenti pada kelenjar limfe atau jika mikroorganisme tersebut langsung memasuki vena pada saat pertama kali, maka dapat terjadi infeksi pada aliran darah dan mungkin terjadi ledakan bakteri ( bakterimia). Bakterimia biasanya ditangani secara cepat dan efektif oleh makrofag dari sistem monosit makrofag.

Namun, jika organisme yang masuk itu berjumlah sangat besar dan cukup resisten, maka sistem makrofag tidak mampu menaklukkannnya. Hal ini mengakibatkan organisme tersebut dapat menetap di dalam darah. Keadaan ini dinamakan septikemia atau sepsis. Apabila infeksi mikroorganisme telah menyebar luas ke banyak bagian tubuh, dimana infeksi disebarkan lewat darah dari satu jaringan ke jaringan lainnya dan menyebabkan kerusakan yang luas, maka keadaan ini disebut dengan syok septik.

Mekanisme kerja sistem imun

Imunitas mengacu pada kemampuan tubuh menahan atau mengeliminasi benda asing atau sel abnormal yang potensial berbahaya, selain itu imunitas juga merupakan jawaban reaksi tubuh terhadap bahan asing secara molekuler maupun seluler. Secara historis imunitas ini merupakan perlindungan terhadap penyakita yang lebih spesifik dikenal dengan infectious disease. Sel-sel yang bertanggung jawab atas berbagai strategi pertahanan imun adalah leukosit dan turunannya. Respons imun diklasifikasikan sebagai respons imun nonspesifik dan spesifik, bergantung pada derajat selektivitas mekanisme pertahanan.

Respon imun nonspesifik adalah respons pertahanan inheren yang secara nonselektif mempertahankan tubuh dari invasi benda asing dari jenis apapun. Respons ini membentuk lini pertahanan pertama terhadap berbagai factor yang mengancam termasuk agen infeksi, iritan kimiawi, cedera jaringan yang menyertai trauma mekanis. Respon ini sebagian besar didukung oleh netrofil dan makrofag.

Sebelumnya dengan mekanisme kemotaksis, netrofil akan menuju ke jaringan yang cedera dan mulai melakukan fungsinya, yaitu fagositosis. Dalam beberapa jam sesudah dimulainya radang akut, terjadi kenaikan jumlah netrofil yang signifikan dalam darah. Bila netrofil dan makrofag telah selesai melakukan fungsi fagositiknya, maka semua netrofil dan makrofag akan mati. Setelah beberapa hari, dalam jaringan yang meradang akan terdapat rongga yang mengandung berbagai bagian jaringan nekrotik, netrofil mati, makrofag mati, dan cairan jaringan. Campuran seperti ini biasanya disebut nanah. Pencairan jaringan nekrotik dipercepat karena leukosit yang mati melepaskan suatu enzim proteolitik, yaitu trypsin. Pencairan jaringan ini memudahkan pengangkutan sisa-sisa jaringan yang mati sehingga memudahkan penyembuhan. Setelah proses infeksi dapat ditekan, cairan eksudat dapat mengalami proses autolisis dan diabsorbsi ke dalam jaringan sekitar hingga seluruh proses kerusakan jaringan itu hilang

Respons imun spesifik secara selektif menyerang benda asing tertentu yang telah mereka temui sebelumnya. Respons-respons spesifik ini diperantai oleh limfosit yang setelah mendapat invasi oleh agen yang sama, mengenali dan secara diskriminatif melawan agen tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar